Destinasi DestinasiCerita, tips, dan rekomendasi yang dipersiapkan dengan rapi.
travel

Air Terjun Leuwi Hejo: Spot Tersembunyi di Bogor yang Bikin Lupa Diri

Jelajahi Air Terjun Leuwi Hejo, curug tersembunyi di Bogor dengan air hijau toska. Review jujur dari perjalanan pribadi, lengkap tips hemat dan akses jalan.

27 Aug 2026 · 6 menit baca · oleh Diah Iskandar Mulyadi
Air Terjun Leuwi Hejo: Spot Tersembunyi di Bogor yang Bikin Lupa Diri

Saya ingat betul hari Sabtu pagi yang mendung itu. Setelah seminggu bergelut dengan macetnya Bekasi, kepala rasanya butuh pelarian yang beda. Bukan mal, bukan kafe, tapi suara gemericik air, tanah basah, dan rimbunnya pepohonan.

Berbekal informasi dari forum diskusi online, saya memutuskan menyusuri satu destinasi yang namanya makin sering muncul di obrolan traveler hemat: Air Terjun Leuwi Hejo. Lokasinya di Desa Gunung Sari, Kecamatan Pamijahan, Bogor. Dari pusat Kota Bekasi, perjalanan bisa ditempuh sekitar dua setengah jam kalau jalanan lancar, walau saya pribadi sudah siap mental menghadapi macet di kawasan Sentul dan Ciawi.

Yang saya kejar sederhana: curug dengan air hijau toska alami, bukan hasil editan kamera. Sebagai penulis yang sudah delapan tahun meliput tempat-tempat seperti ini, saya agak skeptis dengan klaim foto Instagram. Tapi rasa penasaran tetap menang. Saya ajak istri dan anak saya yang masih balita, plus bekal camilan, jas hujan, dan baju ganti.

Perjalanan ini bukan sekadar liburan. Buat saya, ini ekspedisi kecil untuk membuktikan apakah Leuwi Hejo memang layak disebut hidden gem, atau cuma gimmick yang kebetulan fotogenik.

Dari gerbang utama kawasan Curug Leuwi Hejo, pengunjung akan disambut area parkir yang cukup luas. Tiket masuknya juga masih ramah di kantong. Saat saya berkunjung di pertengahan tahun 2025 lalu, biaya masuknya Rp25.000 per orang. Parkir motor Rp5.000, sedangkan mobil Rp15.000. Untuk ukuran wisata alam Bogor yang belakangan banyak mematok harga tinggi, ini masih tergolong masuk akal.

Setelah membayar tiket, perjalanan menyusuri jalan setapak dimulai. Treknya tidak terlalu berat, cocok untuk pemula atau keluarga dengan anak kecil. Sepanjang jalan, kita melewati sawah, kebun warga, dan beberapa warung sederhana yang jadi tempat istirahat dadakan.

Saya sempat berhenti di warung kecil milik Pak Ujang, petani lokal yang juga merangkap penjaga warung. Sambil menyeduh kopi, ia cerita bahwa dulu Leuwi Hejo benar-benar sepi. Yang datang kebanyakan warga sekitar untuk mandi atau sekadar bermain air. Baru sekitar tahun 2018, setelah viral di media sosial, tempat ini pelan-pelan ramai dikunjungi orang luar daerah.

Bagian akhir trek lumayan menurun dan agak curam. Untuk anak-anak atau orang tua, sebaiknya lebih hati-hati karena jalurnya bisa licin, apalagi setelah hujan. Saya lihat beberapa pengunjung memilih menyewa jasa ojek lokal dengan motor trail, tarifnya Rp20.000 sekali jalan. Cukup membantu kalau Anda membawa banyak perlengkapan atau datang bersama anak kecil Tulisan terkait di destinasi hits.

Makin dekat ke curug, suara gemuruh air terdengar lebih jelas. Aroma tanah basah bercampur daun jatuh langsung bikin pikiran terasa lebih ringan. Rasanya seperti tubuh pelan-pelan mengembaliin tenaga yang hilang setelah seminggu penuh kejebak rutinitas kota.

Air Hijau Toska yang Ternyata Bukan Editan

Sekitar 20 menit berjalan kaki, akhirnya saya sampai di lokasi utama. Dan jujur saja, saya terpana sebntar.

Air Terjun Leuwi Hejo punya ketinggian sekitar 15 meter dengan kolam alami di bawahnya. Warna airnya benar-benar hijau toska, mirip air laut di Kepulauan Seribu, tapi ini air tawar. Warna itu muncul karena kandungan mineral alami dan pantulan sinar matahari di dasar kolam yang relatif dangkal.

Saya langsung menurunkan ransel dan mengajak anak saya bermain air di pinggir kolam. Suhu airnya sejuk, tapi tidak sedingin curug-curug di kawasan Puncak. Kedalamannya bervariasi, dari setinggi lutut sampai sekitar 3 meter di bagian tengah. Untuk yang tidak bisa berenang, tersedia ban bekas yang bisa disewa seharga Rp10.000.

Saya sendiri memilih duduk di bebatuan tepi kolam sambil merekam istri saya yang berenang. Momen kecil begini kadang terasa lebih mahal daripada itinerary liburan yang terlalu padat Pengalaman serupa saya tulis di destinasi tersembunyi.

Satu hal yang saya suka dari Leuwi Hejo adalah kebersihannya. Meskipun ramai, sampah plastik hampir tidak terlihat. Pengelola setempat, gabungan pemuda desa, terlihat cukup disiplin menjaga area wisata. Tempat sampah terpilah disediakan di beberapa titik, dan beberapa petugas sesekali mengingatkan pengunjung untuk tidak meninggalkan bekas makanan.

Ini jarang saya temui di destinasi wisata alam lain yang sering kali kotor karena ulah pengunjung. Menurut data dari Dinas Pariwisata Kabupaten Bogor tahun 2024, kawasan Leuwi Hejo berhasil mengurangi sampah plastik hingga 60% sejak program sadar wisata digalakkan.

Tips Hemat dan Strategi Anti-Macet dari Bekasi.

Bagi Anda yang tinggal di Bekasi atau Jakarta Timur, waktu berangkat adalah kunci. Saya sarankan berangkat paling lambat pukul 06.00 WIB. Lewat dari jam itu, peluang terjebak macet di Cibubur, Sentul, atau Ciawi makin besar. Perjalanan yang normalnya dua sampai tiga jam bisa molor sampai 4 jam.

Saya sendiri berangkat pukul 05.30 dan tiba di lokasi sekitar pukul 08.00. Lumayan, suasananya masih cukup sepi. Kolam belum terlalu penuh, antrean foto belum panjang, dan udara pagi masih segar bangeet.

Untuk akomodasi, jika ingin menginap, ada beberapa homestay milik warga di sekitar Desa Gunung Sari. Harganya mulai dari Rp150.000 per malam untuk kamar sederhana. Tapi saya pribadi memilih day trip karena jarak dari Bekasi masih memungkinkan untuk perjalanan sehari.

Bawa bekal sendiri juga sangat disarankan. Makanan dan minuman di warung sekitar curug memang tidak terlalu mahal, tapi tetap sedikit lebih tinggi dibanding warung biasa. Contohnya, segelas es teh manis Rp7.000 dan nasi goreng Rp20.000. Kalau datang bersama keluarga, selisih kecil seperti ini bisa terasa juga di akhir hari.

Jangan lupa bawa pakaian ganti, sandal gunung atau sandal jepit yang kuat, serta waterproof bag untuk menyimpan ponsel dan dompet. Saya belajar dari pengalaman pahit saat ponsel hampir tercebur karena kaki tergelincir di bebatuan licin. Gunakan juga tabir surya meskipun cuaca mendung, karena sinar UV tetap bisa menembus awan. ## Spot Foto dan Aktivitas Seru Selain Berenang.

Leuwi Hejo bukan cuma tempat untuk berenang. Di sekitar area curug, ada beberapa spot foto yang cukup instagramable. Salah satu yang paling dikenal adalah gantungan ban di atas air. Anda bisa berfoto dengan latar belakang air terjun sambil duduk di ban. Saat akhir pekan, antreannya lumayan panjang, jadi siapkan sabar sedikit.

Bagi yang suka tantangan, ada tebing setinggi sekitar 5 meter yang biasa digunakan untuk cliff jumping. Tapi pastikan dulu kedalaman air di bawahnya, karena kondisi kolam bisa berubah tergantung debit air. Saya melihat beberapa pemuda lokal melompat dengan santai, tapi untuk anak kecil atau yang tidak terbiasa, sebaiknya jangan coba-coba. Lebih aman main air di tepian yang dangkal.

Selain itu, Anda juga bisa berjalan kaki menyusuri sungai kecil di atas curug. Ada jalur setapak yang membawa pengunjung ke pemandangan sawah terasering yang hijau. Suasananya jauh lebih tenang dibanding area kolam utama, cocok untuk duduk-duduk, foto pelan-pelan, atau sekadar mendengar suara alam tanpa harus banyak bicara.

Saya dan keluarga menghabiskan waktu sekitar satu jam di area ini sebelum akhirnya memutuskan pulang. Anak saya sempat tidak mau diajak naik lagi karena masih betah main air. Ya, tandanya tempat ini memang cukup menyenangkan.

Leuwi Hejo Layak Masuk Daftar Liburan Singkat

Pulang dari Leuwi Hejo, badan terasa pegal, tapi hati senang. Perjalanan ini membuktikan bahwa Bogor masih menyimpan banyak permata tersembunyi yang tidak kalah menarik dari destinasi mahal di luar negeri. Air terjun dengan warna hijau toska, trek yang menantang tapi masih aman, serta pengelolaan sampah yang cukup baik membuat saya memberi nilai 8,5 dari 10 untuk tempat ini.

Satu setengah poin kurangnya ada di akses jalan menuju lokasi yang masih perlu diperbaiki, terutama saat musim hujan. Beberapa bagian jalan terasa sempit dan licin, jadi pengemudi harus benar-benar fokus. Untuk traveler hemat, keluarga muda, atau siapa pun yang butuh liburan singkat dari hiruk-pikuk kota, Leuwi Hejo bisa jadi pilihan yang pas. Biayanya relatif murah, pemandangannya segar, dan pengalamannya terasa otentik. Bukan tipe tempat yang serba mewah, tapi justru di situ daya tariknya.

Saya sudah merencanakan untuk kembali bulan depan, mungkin sambil mencoba homestay dan menjelajahi curug-curug lain di sekitarnya. Kalau Anda tertarik, jangan lupa bawa kamera, pakaian ganti, dan hati yang terbuka. Selamat berpetualang.

Air terjun Leuwi Hejo dengan air hijau toska dan kolam alami di bawahnya

Suasana trek menurun menuju Curug Leuwi Hejo dengan pemandangan sawah

Pengunjung bermain air di kolam Leuwi Hejo yang jernih

Baca juga: Destinasi praktis

Bahan bacaan: sumber resmi

Tag: #air terjun bogor #wisata alam bogor #curug leuwi hejo #destinasi tersembunyi #liburan keluarga bogor